BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Kamis, 08 November 2012

FORENSIK JARINGAN (bagian 3)


Previous


5.      Source Traceback
Proses analisa data dapat mengungkapkan kapan dan bagaimana terjadinya suatu peristiwa serangan atau ancaman terhadap jaringan, dengan begitu seorang administrator atau penyidik dapat mengambil langkah-langkah antisipasi dan perbaikan sistem keamanan jaringan agar proses pemulihan keamanan dapat berlangsung dengan benar dan cepat serta untuk langkah pencegahan dari ancaman atau serangan yang akan datang sehingga dapat meminimalisasi kerugian yang derita. Untuk itu diperlukan suatu solusi agar dapat diambil suatu langkah pencegahan terhadap peristiwa yang sama, salah satunya adalah dengan mengetahui sumber dari penyebab terjadinya penyalahgunaan atau gangguan sistem keamanan jaringan. Traceback digunakan sebagai solusi dari permasalahan ganggunan keamanan sistem seperti DoS. Ada dua macam pendekatan tracing pada jaringan. Pertama adalah IP traceback dan kedua adalah  traceback across stepping-stones (connection chain).
Untuk memahami metode tracing diperlukan pengetahuan dasar tentang teknologi routing. Routing adalah suatu proses memindahkan informasi antar jaringan dari sumber ke tujuan. Routing melibatkan dua aktifitas dasar yaitu menentukan jalur optimal routing dan melewatkan paket antar jaringan. Protokol seperti Border Gateway Protocol (BGP) dan Routing information Protocol (RIP) menggunakan metrik untuk mengevaluasi jalur terbaik untuk paket. Berikut ini beberapa metrik yang digunakan pada proses penentuan jalur oleh suatu protokol routing [4] :
Ø  Panjang jalur : jumlah hop yang harus dilalui paket dari sumber ke tujuan.
Ø  Biaya komunikasi.
Ø  Delay : waktu yang diperlukan untuk memindahkan paket dari sumber ke tujuan.
Ø  Bandwidth : besarnya lalu lintas data yang dapat lewat melalui sebuah jalur.
Ø  Load : tingkat penggunaan sumber daya jaringan.
Ø  Reabilitas : tingkat keandalan suatu jaringan seperti berapa sering link putus atau berapa lama link yang putus tersebut dapat diperbaiki.

Dengan traceback diharapkan dapat ditentukan jalur dari intrusi atau  bahkan menemukan sumber awal dari serangan untuk digunakan sebagai langkah awal dari tindakan hukum. Ada beberapa metode traceback yang telah dikembangkan untuk melacak sumber dari serangan.

5.1 ICMP Traceback
Pada ICMP traceback (iTrace), pesan traceback dibawa pada paket ICMP, nilai dari bagian ini ditentukan oleh IANA (Internet Assigned Numbers Authority). Bagian CODE diset dengan nilai 0 dan tidak diproses oleh penerima[5]


Bagian TAG adalah oktet tunggal, dengan nilai-nilai sebagai berikut: Back Link, Forward Link, Timestamp, Traced Packet Contents, Probability, RouterId, HMAC Authentication Data dan Key Disclosure List. Fungsi Forward dan Back Link adalah mempermudah pembentukan rantai dari pesan traceback. Padanya terdapat informasi identifikasi dan nilai dari bagian ini terdiri dari tiga TLV subelemen : Interface Identifier, IPv4 Address Pair dan MAC Address Pair atau Operator-Defined Link Identifier[5].  Agar pesan tidak dapat dipalsukan maka diperlukan HMAC Authentication Data. Pada Key Disclosure List terdapat kunci hash algorithms. Elemen ini harus terdiri setidaknya satu Key Disclosure subelemen dan satu Public Key Information subelemen. Isi utama dari Key Disclosure elemen adalah kunci untuk autentikasi pesan traceback sebelumnya dan waktu mulai dan berakhirnya ketika kunci tersebut digunakan. Pada Key Disclosure elemen juga terdapat digital signature. Gambar 2.3 berikut ini memperlihatkan skema ICMP Traceback.

Gambar 2.3 ICMP Traceback[6]

5 .2 Intention-Driven ICMP Traceback
Intention-Driven ICMP Traceback (I-D iTrace) menambahkan bit tambahan pada routing dan proses forwarding yang dapat meningkatkan performance iTrace sebelumnya. I-D iTrace memisahkah fungsi dari iTrace menjadi dua modul, yaitu decision module dan iTrace generation module[7].  Decision module akan menentukan tipe pesan iTrace yang harus dihasilkan. Berdasarkan keputusan ini, satu bit khusus pada tabel packet-forwarding akan diset menjadi 1 dan paket data berikutnya yang menggunakan masukan forwarding akan dipilih sebagai pesan iTrace. Pesan ini kemudian akan diproses oleh iTrace generation module dan pesan iTrace baru akan dikirim.

Next 

FORENSIK JARINGAN (bagian 2)

3.       Analisa Data
Forensik jaringan memungkinkan dilakukannya proses analisa dan investigasi data yang telah disimpan sebelumnya. Ada beberapa sumber bukti potensial yang dapat digunakan untuk forensik pada komputer dan jaringan. File adalah salah satu sumber bukti potensial. Output dari aplikasi seperti pengolah kata, spread sheets dan lain-lain dapat menyimpan  informasi sejarah, chaces, backup ataupun log aktifitas. Dilain pihak, log aktifitas jaringan dapat menyimpan beberapa informasi yang sangat penting dalam mengungkap terjadinya ancaman atau serangan terhadap jaringan. Aktifitas jaringan yang tercatat dapat mengungkapkan tindakan kriminal dengan sangat detail dibandingkan sumber lainnya. Oleh karena itu sistem log merupakan sumber vital dari bukti potensial.
Suatu perusahaan atau organisasi sudah seharusnya menyimpan informasi tentang segala aktifitas jaringan seperti login computer dan layanan yang menggunakan jaringan seperti remote Telnet atau FTP. Hal ini sangat berguna dalam investigasi dikarenakan rekaman tersebut dapat menyimpan berbagai informasi tentang aktifitas pengguna tertentu, seperti tanggal dan waktu dari aktifitas tersebut. Informasi ini sangat berhubungan dengan kejadian internal seperti email dan akses web ataupun kejadian eksternal yang dapat menunjukan waktu terjadinya aktifitas tersebut(timeline)[2]. Timeline berfungsi sebagai acuan untuk menempatkan peristiwa yang berbeda dalam suatu sistem dan menghubungkan ke suatu sangkaan, membuat suatu alibi dan menentukan bukti-bukti yang tidak tersangkut dengan tindakan kriminal. Dari analisa data paket-paket yang disimpan bisa didapatkan beberapa informasi antara lain :
Ø  Informasi tentang file yang ditransfer ke dan dari target
Ø  Perintah yang diberikan pada target
Ø  Informasi tentang terjadinya waktu aktifitas (timeline)
Ø  Output yang dihasilkan dari perintah yang diberikan
Ø  Bukti dari paket program scanning yang disembunyikan pada komputer jaringan lokal.

Tabel 2.1 Tipe peristiwa dan informasi yang diperlukan[3]
Tipe Kejadian
Peristiwa
Informasi yang diperlukan
Penggunaan illegal dari  sumber daya
Penggunaan illegal sumber daya proses dan penyimpanan

Host : access log, status proses, penggunaan CPU dan status dari file dan penyimpanan
Penggunaan illegal bandwidth jaringan
Network : status jaringan, jumlah paket yang dikirim dan diterima, alamat IP, protokol used dan status dari port switch
Relay illegal dari layanan mail dan proxy
Host :  log aplikasi dan status proses
Network : alamat IP, protokol yang digunakan dan isi data
DoS (Denial of Service)
Terhentinya layanan karena penggunaan resource server
Host :  status proses, penggunaan CPU dan paket log yang tidak umum
Network : status jaringan, jumlah paket yang tidak biasa, alamat IP dan isi paket yang tidak biasa
Terhentinya komunikasi karena penggunaan resource bandwidth jaringan
Network : jumlah paket yang dikirim dan diterima, alamat IP, protokol used dan isi data
Detruksi data dan pemalsuan
Pemalsuan halaman web, file data dan file program
Host : log akses, status file dan penyimpanan dan isi konfigurasi file
Network : alamat IP, protokol used, isi data dan status port switch
Pencurian  informasi
Pencurian isi informasi yang rahasia dan intersepsi komunikasi
Host : log akses dan status file dan penyimpanan
Network : alamat IP, protokol used, isi data dan status port switch
Tipe informasi yang disimpan pada log tergantung dari aplikasi yang digunakan oleh user dan pada konfigurasi sistem.  Tabel 2.1  memperlihatkan hubungan antara serangan atau ancaman yang terjadi dengan informasi yang dibutuhkan untuk menganalisa peristiwa tersebut.

4.      Monitoring dan Koleksi data
Suatu sistem forensik jaringan selalu dilengkapi kemampuan untuk memonitoring, menangkap dan menyimpan semua data lalu lintas pada jaringan. Sistem yang terhubung ke jaringan internet sangat potensial untuk diserang. Oleh karena itu diperlukan suatu mekanisme untuk memonitoring dan mendeteksi serangan terhadap sistem/jaringan dengan menggunakan IDS. IDS adalah alat yang dapat mengumpulkan informasi, menganalisa informasi apakah ada aktifitas yang aneh pada jaringan dan melaporkan hasil analisa dari proses deteksi[1].
Teknik deteksi intrusi dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama adalah berdasarkan signature-based detection. Signature-based detection menggunakan contoh pola serangan yang telah diketahui/disimpan sebelumnya untuk mengidentifikasi serangan. Yang kedua adalah deteksi anomali yaitu dengan cara menentukan apakah deviasi dari pola penggunaan normal dapat dikategorikan sebagai intrusi.
Sistem forensik jaringan juga dilengkapi dengan unit penyimpanan data sehingga memungkinkan dilakukannya proses analisa dan investigasi dari data yang dikoleksi sebelumnya apabila terjadi ancaman atau serangan terhadap suatu sistem keamanan. Untuk mengkoleksi data dari jaringan digunakan packet sniffer. Prinsip kerja dari packet sniffer adalah mengintersep setiap bagian dari data yang melewati jaringan dan membuat salinan untuk dianalisa. Hal ini tentu saja memerlukan unit penyimpanan yang tidak sedikit, seiring dengan semakin tingginya tingkat penggunaan jaringan dan makin besar lalu lintas data pada jaringan, makin besar pula penyimpanan yang dibutuhkan. Untungnya dengan semakin murahnya alat penyimpanan data, maka makin murah pula suatu sistem forensik jaringan.

Minggu, 21 Oktober 2012

SERANGAN DoS (Denial of Service)


Denial of Service (DoS) adalah sebuah metode serangan terhadap sebuah komputer atau server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber daya (resource) sebuah peralatan jaringan komputer sehingga layanan jaringan komputer menjadi terganggu. Serangan ini bertujuan untuk mencegah pengguna mendapatkan layanan dari sistem.

Serangan DoS dapat terjadi dalam banyak bentuk. yaitu :
• Serangan Buffer Overflow, mengirimkan data yang melebihi kapasitas sistem, misalnya paket ICMP yang      berukuran sangat besar.
• Serangan SYN, mengirimkan data TCP SYN dengan alamat palsu.
• Serangan Teardrop, mengirimkan paket IP dengan nilai offset yang membingungkan.
• Serangan Smurf, mengirimkan paket ICMP bervolume besar dengan alamat host lain.
• Internet Control Message Protocol (ICMP) Flooding.

Meskipun demikian, serangan terhadap TCP merupakan serangan DoS yang sering dilakukan. Hal ini disebabkan karena jenis serangan lainnya (seperti halnya memenuhi ruangan harddisk dalam sistem, mengunci salah seorang akun pengguna yang valid, atau memodifikasi tabel routing dalam sebuah router) membutuhkan penetrasi jaringan terlebih dahulu, yang kemungkinan penetrasinya kecil, apalagi jika sistem jaringan tersebut telah diperkuat.

Minggu, 14 Oktober 2012

E-Commerce


Devinisi  E-Commerce

Secara umum e-commerce dapat didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan/perniagaan barang atau jasa (trade of goods and service) dengan menggunakan media elektronik. Jelas, selain dari yang telah disebutkan di atas, bahwa kegiatan perniagaan tersebut merupakan bagian dari kegiatan bisnis. Kesimpulannya, “e-commerce is a part of e-business”.

Beberapa devinisi E-Commerce menurut para ahli :
Laudon & Laudon (1998). E-Commerce adalah suatu proses membeli dan menjual produk-produk secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan computer sebagai perantara transaksi bisnis.

David Baum (1999, pp. 36-34). E-Commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelavanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik.

Kalakota dan Whinston (1997)
Dapat ditinjau dari tiga perspektif berikut:
1. Dari perspektif komunikasi, E-Commerce adalah pengiriman barang, layanan, informasi, atau pembayaran melalui jaringan komputer atau melalui peralatan elektronik lainnya.
2. Dari perspektif proses bisnis, E-Commerce adalah aplikasi dari teknologi yang
menuju otomatisasi dari transaksi bisnis dan aliran kerja.
3. Dari perspektif layanan, E-Commerce merupakan suatu alat yang memenuhi keinginan perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas biaya layanan (service cost) ketika meningkatkan kualitas barang dan meningkatkan kecepatan layanan pengiriman.
4. Dari perspektif online, E-Commerce menyediakan kemampuan untuk membeli dan menjual barang ataupun informasi melalui internet dan sarana online lainnya.

Karakteristik Penjualan Pada E-Commerce
• Terbuka untuk umum, di mana informasi disebarkan secra umum pula.
• Servis yang digunakan juga bersifat umum, sehingga dapat digunakan oleh orang banyak.
• Servis yang digunakan berdasarkan permintaan.
• Sering dilakukan sistim pendekatan client-server.

Pilar Keamanan E-Commerce
·         Authentication (keabsahan pengirim)
Identitas pengguna/pengirim data teridentifikasi (tidak ada kemungkinan penipuan).
·         Confidentiality (kerahasiaan data)
Data tidak dapat dibaca oleh pihak yang tidak berhak.
·         Integrity (keaslian data)
Data tidak dapat diubah secara tidak sah.
·         Non-Repudiation (anti-penyangkalan)
Tidak ada penyangkalan pengiriman data (dari pihak penerima terhadap pihak pengirim).

Perbedaan E-Commerce Dengan Bisnis Yang Lain
Jika ditanyakan, Apa perbedaan E-commerce dengan bisnis yang lain?
Pertanyaan berikut dapat terjawab dengan kita mengetahui keuntungan apa saja yang didapat jika kita berbisnis dengan E-Commerce. Berikut ini merupakan Keuntungan pada E-Commerce :
• Dapat meningkatkan pangsa pasar (market exposure)
• Menurunkan biaya operasional (operating cost)
• Melebarkan jangkauan (global reach)
• Meningkatkan kesetiaan pelanggan (customer loyalty)
• Meningkatkan supplier management
• Memperpendek waktu produksi
• Meningkatkan rantai nilai pendapatan (value chain)

Senin, 09 April 2012

Narasi Game

Disuatu perjalanan kembali membawa Pusaka dari Valhala.Azhari Sebagai Guru dan ketiga muridnya Lutfie,Achmad Chaeroni dan Aditya yang setia mendampingi. Dan mereka juga akan melewati tempat yang bernama Death Town yang dipenuhi mahluk jahat pemakan manusia yang memang membutuhkan Pusaka untuk kesempurnaan kesaktiannya. Disaat mereka sedang beristirahat disebuah desa yang tidak jauh dari Death Town. Mereka diculik dan dibawa kemarkas oleh pasukan dari Death Town yang dipimpin oleh Baha yang sangat membutuhkan pusaka tersebut. Hanya Lutfielah yang tidak berhasil diculik yang kebetulan sedang mencari perbekalan untuk perjalanan. Karena secara kebetulan Lutfie yang membawa Pusaka tersebut, maka teman dan gurunya dijadikan sandra untuk ditukar dengan pusaka oleh Baha beserta pasukannya. Dan dimulailah petualangan Lutfie untuk menyelamatkan teman-teman dan gurunya. Dengan bantuan dari informasi penduduk-penduduk Lutfie berusaha mencari cara untuk menyelamatkan rekan-rekan perjalannya. Karena Lutfie,guru dan teman-temannya enggan memberi pusaka tersebut.Terjadi pertempuran sampai akhirnya pertarungan hidup mati dengan Baha sang pemimpin Death Town.

Created By
1. Achmad Chaeroni (54409129)
2. Achmad Lutfi P. (53409037)
3. Adityo Prabowo (50409166)
4. Ahmad Maulana Y.B. (54409714)
5. Azhari Muis (56409225)
6. Cintia Leliana (52409445)
7. Dendy Perdana P. (51409497)